Enam siswa MA Darul Falah memborong juara dalam lomba pidato tiga bahasa pada rangkaian Harlah Ma’arif NU ke-97
Tulungagung – Kemampuan berbicara di depan publik kembali membawa prestasi bagi Madrasah Aliyah Darul Falah. Dalam rangka Harlah Ma’arif NU ke-97, PC LP Ma’arif NU Tulungagung menggelar berbagai perlombaan yang diikuti warga madrasah di lingkungan PC LP Ma’arif NU Tulungagung. Salah satu cabang yang diperuntukkan bagi tingkat madrasah aliyah adalah lomba pidato tiga bahasa.
MA Darul Falah mengirimkan enam delegasi untuk mengikuti perlombaan tersebut. Menariknya, seluruh delegasi berhasil meraih juara. Mereka tampil dalam tiga kategori bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Tiga Bahasa, Enam Juara
Pada kategori Bahasa Indonesia putra, Ahmad Daril Irsyadal ‘Ubada berhasil meraih Juara 1. Sementara pada kategori putri, Nur Azura memperoleh Harapan 3.
Prestasi serupa juga diraih pada kategori Bahasa Arab. Ahmad Bayu Ardhana Putra berhasil menjadi Juara 1 kategori putra. Sedangkan Zulva Restiana Salsabila meraih Juara 2 kategori putri.
Pada kategori Bahasa Inggris, capaian MA Darul Falah kembali berlanjut. Muhammad Rayhan Ferdiansyah berhasil meraih Juara 1 kategori putra. Sementara Ratu Aulia Rahman menempati posisi Juara 2 kategori putri.
Enam capaian tersebut menjadi catatan tersendiri bagi MA Darul Falah. Tidak hanya karena seluruh delegasi berhasil memperoleh penghargaan, tetapi juga karena mereka tampil melalui tiga bahasa yang berbeda.
Belajar Berbicara, Belajar Percaya Diri
Lomba pidato tidak berhenti pada kemampuan menguasai bahasa. Di atas panggung, siswa juga belajar menyampaikan gagasan dengan jelas, mengatur intonasi, menguasai materi, dan membangun kepercayaan diri.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan keterampilan siswa. Terlebih bagi santri yang nantinya akan berhadapan dengan berbagai lingkungan dan tuntutan komunikasi setelah menyelesaikan pendidikan.
Prestasi enam delegasi MA Darul Falah dalam Harlah Ma’arif NU ke-97 menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa dapat menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Dari satu panggung, tiga bahasa, dan enam delegasi, lahir enam capaian yang membawa nama madrasah. Lebih dari sekadar piala, pengalaman ini menjadi bekal untuk terus berani berbicara, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran di tengah masyarakat.




